PRO DAN KONTRA VAKSINASI MEASLES DAN RUBELLA (MR)

By:

Cut Husna, Fithria, Yusran, Muhammad Nur

Program Studi Doktor Matematika dan Aplikasi Sains, Program Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, Darussalam-Banda Aceh

Apa itu vaksin MR dan MMR?

Vaksin measles dan rubella (MR) mencegah penyakit yang disebabkan oleh virus measles (campak) dan rubella (campak jerman). Sedangkan MMR, merupakan vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit infeksi measles, mumps (gondong), dan rubella. Gejala campak dimulai dengan demam tinggi, anak tampak sakit berat, batuk dan pilek, dapat dijumpai muntah dan mencret. Gejala lainnya terjadinya ruam kemerahan dimulai dari wajah dan seluruh tubuh, mata kemerahan dan berair, serta bibir pecah pecah. Pada anak tertentu saat mengalami demam tinggi akan mencetuskan kejang. Setelah demam turun, bercak berubah menjadi coklat kehitaman dan akan menghilang beberapa hari sampai minggu sesudahnya. Penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi pada paru dan otak.

Data statistis menunjukkan jumlah pasien campak pada tahun 2010-2015 sebanyak 23.164 kasus, dan kasus Rubella pada tahun 2010-2015 sebanyak 30.463. Data dalam 5 tahun terakhir menunjukkan 70% kasus rubella terjadi pada kelompok usia <15 tahun. Virus ini sangat menular sehingga menimbulkan wabah. Virus MR dapat menyerang wanita hamil. Apabila virus menyerang pada trimester pertama (0-3 bulan kehamilan) dapat mengakibatkan keguguran. Apabila virus menyerang ibu hamil pada trimester kedua, akan meneyebabkan sebagaicongenital rubella syndrome yang ditandai dengan ukuran kepala yang kecil, buta, tuli, dan cacat mental.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan vaksinasi tersebut terbukti mencegah penyebaran penyakit serta menyelamatkan nyawa jutaan anak-anak di dunia. Vaksin MR telah digunakan pada 141 negara dan tidak ada laporan efek samping yang berbahaya. Vaksin yang digunakan di Indonesia terjamin keamanannya. Cakupan imunisasi yang kurang bisa menyebabkan timbulnya Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti pada 2015 lalu, di Padang, Sumatera Barat dalam penularan difteri. Sejumlah keberhasilan vaksinasi telah ditunjukkan antara lain, cacar pada 1974, tetanus neonatorum pada 2015 lalu, serta Indonesia bebas polio pada 2014. Untuk campak, Indonesia menargetkan bebas pada 2020 mendatang. Menurut kantor regional Asia Tenggara dari Badan Kesehatan Dunia (WHO SEARO), Indonesia merupakan salah satu negara yang tertinggal dalam upaya menangani penyakit campak. Ini disebabkan adanya kesalahpahaman terhadap upaya vaksinasi. Data WHO SEARO menunjukkan 1,1 juta anak berusia satu tahun tidak mendapatkan vaksinasi pada 2016 lalu. Indonesia bahkan berada di bawah Maladewa dan Bhutan yang telah mendeklarasikan bebas campak.

Apa manfaatnya?

Vaksin ini dapat diberikan untuk anak usia 9 bulan hingga kurang dari 15 tahun. Vaksin MR perlu diberikan pada anak untuk mencegah penyakit campak dan rubella, dan mencegah penyebarannya kepada anak-anak lain. Virus ini menyebabkan kematian dan kecacatan yang bermakna pada anak-anak di Indonesia dan di dunia, maka untuk mematikan virus ini secara global, diperlukan vaksin massal pada anak-anak di Indonesia.

Darimana bahannya?

Menurut Menteri Kesehatan RI, imunisasi MR tidak haram kerena terbuat dari telur ayam (embrio ayam) sehingga dapat digunakan tanpa ada keraguaan akan kehalalannya.

Pandangan masyarakat tentang vaksin MR

Orang tua yang menolak vaksinasi menganggap anak mereka tetap sehat meski tidak diimunisasi. Namun, dari beberapa pendapat pakar kesehatan mengatakan bahwa anak-anak yang tidak diimunisasi justru akan mendapat perlindungan dari mereka yang divaksinasi. Pandangan masyarakat menolak penggunaan vaksin karena masih meragukan keamanan vaksin, dan dihubungkan dengan efek samping dari kejadian vaksinasi yaitu Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) dimana angka kejadiannya sangat kecil.

Beberapa alasan masyarakat menolak (kontra) vaksin MR adalah (1) karena vaksin tersebut belum memilki sertikat halaL, (2) ada anggapan bahwa imunisasi ini bisnis dari perusahaan obat, (3) Imunisasi ini mendahului ketetapan Tuhan/Allah SWT bahwa sakit itu merupakan bagian dari ujian Allah, (4) adanya keterangan dari tenaga medis yang kompeten bahwa tidak ada vaksin yang halal, (5) banyak beredar vaksin palsu, (6) anak sering sakit/rewel setelah divaksin, dan (7) kurang dukungan keluarga/suami/ orangtua terhadap vaksin.

Sedangkan pendapat yang mendukung vaksinasi tersebut didasari atas beberapa alasan yaitu mencegah lebih baik daripada mengobati, vaksinasi penting mencegah penyakit infeksi menjadi wabah, dan standar kesehatan individu dan lingkungan masih rendah di Indonesia sehingga anak diperlukan vaksinasi. Selanjutnya, Fatwa MUI No. 4 tahun 2016 tentang imunisasi yang menetapkan imunisasi tersebut pada dasarnya bersifat mubah pada kondisi darurat, dan belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang diwakili Pendiri Halal Corner, banyak pihak mengklaim vaksin Rubella halal (Maharan, 2017). Selain itu, Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun mengatakan bahwa pihaknya telah mengeluarkan Fatwa Nomor 4 Tahun 2016 tentang Imunisasi. Fatwa ini menjawab keraguan umat muslim untuk melakukan imunisasi. Fatwa ini sekaligus menjawab keraguan sebagian masyarakat muslim, yang menyatakan bahwa imunisasi sebagai konsep pencegahan itu bertentangan dengan ketentuan keagamaan, khususnya ikhtiar. Akan tetapi, kebolehannya itu disyaratkan dengan menggunakan vaksin halal. Terkait vaksin Rubella, sekarang vaksin yang digunakan untuk imunisasi MR belum bersertifikat halal.

Daftar Pustaka

Arifianto, 2017, dikutip tanggal 28 Desember 2017 http://www.republika.co.id/berita/ jurnalisme-warga/wacana/17/08/19/ouvfzv396-mengapa-harus-ada-imunisasi-campak-dan-rubella-di-negeri-ini.

Maharan, A (2017), dikutip 28 Desember 2017 dari http://news.liputan6.com/read/3126567/ penjelasan-mui-soal-kehalalan-vaksin-rubella

Note:

Artikel ini adalah bagian dari tugas kelompok Topik Khusus Mahasiswa Prodi DMAS Universitas Syiah Kuala. Isi diluar tanggung jawab penerbit

Sumber : https://muchlisinza.blogspot.co.id/2018/01/pro-dan...